PENDAMPINGAN IDENTIFIKASI BANJIR, SINERGI BAPPEDALITBANG DAN BAPPEDA KALSEL
MARTAPURA – Bappedalitbang Kabupaten Banjar melalui Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan turut mendampingi Bappeda Provinsi Kalimantan Selatan dalam kegiatan identifikasi awal dan verifikasi lapangan desa-desa terdampak banjir Tahun 2026. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis (29/1) di dua kecamatan, yakni Kecamatan Sungai Tabuk dan Kecamatan Cintapuri Darussalam.
Pendampingan tersebut diwakili oleh staf ASN Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan, Rezza dan Mahbub, sebagai bentuk sinergi antara pemerintah kabupaten dan provinsi dalam menangani permasalahan banjir yang terjadi di wilayah Kabupaten Banjar. Identifikasi lapangan dilakukan langsung ke lokasi terdampak guna memperoleh gambaran kondisi faktual di lapangan.
Kegiatan ini bertujuan untuk memetakan kondisi riil serta menginventarisasi permasalahan banjir yang terjadi, tidak hanya di Kabupaten Banjar, tetapi juga di beberapa kabupaten lain di Kalimantan Selatan, di antaranya Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara, dan Kabupaten Balangan. Data hasil verifikasi diharapkan dapat menjadi dasar perencanaan penanganan yang lebih tepat sasaran.

Dalam keterangannya, Rezza menyampaikan bahwa pendampingan ini penting untuk memastikan data yang dihimpun sesuai dengan kondisi aktual di lapangan. “Kami mendampingi Bappeda Provinsi agar data yang diperoleh benar-benar mencerminkan kondisi masyarakat terdampak, mulai dari ketinggian air hingga jumlah rumah dan warga yang terendam,” ujarnya.
Menurutnya, pendampingan ini juga menjadi bagian dari upaya koordinasi lintas pemerintahan agar penanganan banjir dapat dilakukan secara terintegrasi. “Melalui identifikasi langsung, pemerintah daerah dan provinsi bisa memiliki pemahaman yang sama terkait skala permasalahan banjir, sehingga solusi yang dirumuskan ke depan lebih efektif,” tambah Rezza.
Sementara itu, Mahbub juga turut menambahkan bahwa berdasarkan update terakhir pada 25 Januari 2026, desa dengan kondisi banjir terparah di Kecamatan Sungai Tabuk adalah Desa Pembantanan. Ketinggian air di dalam rumah berkisar antara 20–40 cm, sedangkan di jalan mencapai 50–70 cm. Tercatat sebanyak 1.049 rumah terendam, dengan jumlah terdampak 1.149 KK atau 3.311 jiwa.
“Sedangkan untuk Kecamatan Cintapuri Darussalam, berdasarkan update terakhir tanggal 26 Januari 2026, desa yang paling banyak terendam adalah Desa Makmur Karya dengan 305 rumah terdampak. Ketinggian air rata-rata di dalam rumah sekitar 12 cm dan di jalan sekitar 20 cm,” tuturnya.
Dari hasil identifikasi ini diharapkan menjadi titik awal perumusan langkah penanganan banjir yang lebih komprehensif dan berkelanjutan, sehingga ke depan upaya mitigasi dan penanggulangan banjir di Kabupaten Banjar dapat dilakukan secara lebih terencana dan terpadu.(Ione/Brigade Bappedalitbang)

